Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2021

sudah boleh ku lepas?

 Aku rasa ini sudah waktunya Sudah waktunya untuk mulai melupakan semuanya Ceritanya, bunga bunga yang dulu ku biarkan mekar bebas di dalam hatiku sendiri Pula setiap rasa sesak atas dirimu yang hingga sekarang masih sering menghantuiku, menghantui malam-malamku Kamu, yang dulu begitu mudahnya mengambil perhatianku Kata-kata manismi yang dulu masih sangat aku oercayai, dan sekardus janjimu yang masih sangat aku ingat isinya.  Kamu, yang dulu sangat mudah berubah-ubah sifat Mengataiku dengan hal-hal yang aku benci, dan jadi salah satunya alasan atas ketakutanku.  Ketakutan yang aku buat sendiri, tapi hasil perlakuanmu, perkataanmu.  Yang aku yakin jika tak kuberitahu kamu juga tidak akan tahu.  Kita berpisah tanpa sempat mengucapkan maaf juga terima kasih atas segala tawa dan tangis.  Kamu memang jadi alasan atas ketakutanku tapi aku juga tak akan lupa, bahwa kamu adalah satu satunya orang yang mau memangku aku ketika ketakutanku tiba.  Dan, hari ini, a...

bunga ini adalah perasaanku

Aku harap sungai tak membuatku hanyut lebih dalam lagi Ke dalam kenangan Juga kata-kata manis, yang aku harap ini terakhir kali Bahkan aku sudah hampir lupa rasanya di beri bunga Dia bertingkah tanpa mau atau memang tidak mampu untuk memperjelas tindakannya sendiri.  Mungkin ia pikir, aku sudah jauh lebih pintar ketimbang mataku, atau telingaku yang terus kebingungan apa maksudnya  Bunga yang ia beri tahun lalu, sudah layu Bersama dengan dirinya yang berusaha menjauh  Menuruti setiap keanehannya Hingga kembali pada perasaannya Yang aku rasa sama seperti tahun lalu  Ia bisa mengirimiku surat, jika malu Tentang semua tanda tanya Yang tak perna sempat ia jawab  Untuk terakhir kali, ijinkan aku mempertanyakannya lagi “Apa tujuanmu dari awal?” 12 Maret 2021

leave him

 Apakah salah, meninggalkannya? Meninggalkannya karena terlalu lelah di iris luka atau karena ingin lebih mencintai Tuhan? Hubungan ini tak terborgol tapi terasa sangat menyakitkan kian hari Melenguh lelah, mendoakannya seakan tak terjawab Memberinya banyak ruang, banyak waktu Tapi tak pernah ku dapat jawabannya Hingga kini, ketika aku melepas sakit Tanda tanya yang sempat ku tulis Belum ada jawaban pasti Apa aku kurang memberinya baris?  Ku tampakkan dengan jelas, merah mataku, sesak hidungku Tapi yang ia lihat tetap isi kepalanya Isi kepalanya yang aku yakin sampai kapanpun tak akan memberinya jawaban.  Entah sudah seberapa jauh aku melangkah  Antonim arah yang ia tuju Aku tak pernah selesai melihat ke belakang Sosok manusia yang sangat membuat isi kepalaku bertengkar.  Mungkin aku akan terus mencintainya  Tanpa ataupun ku doakan  sisi gelap pada dirinya akan tetap tak terlihat pada mataku.  25 Januari 2021