Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2022

kereta

  halo, kamu siap dengar ini? dulu, cerita kita layaknya kereta, perjalanan nyaman dan sungguh cepat sampai    tujuan.  tapi tujuan kita berbeda. kita berpisah dengan indah.  aku mengucapkan selamat tinggal, dan kamu yang mengucapkan, selamat bertemu kembali.  aku harap kita memang benar-benar di pertemukan kembali. bukan pada kereta yang sama. bukan pada tempat duduk yg dulu sempat kita buat untuk berbagi cerita. tapi yg aku ataupun kamu, sudah memiliki tangan untuk di genggam.  bukan lagi hal menyakitkan. bukan lagi hal yang harus di patahkan. sejak saya bilang selamat tinggal. kita yang di kereta. kita yang duduk berdua. sudah ber ending bahagia.  selamat bertemu kembali! 5 Januari 2021

hanya sunyi yang tahu jawabannya

  jika di ingat, diantara luka dan tangis yang mendera. ada terselip beberapa kisah yang mampu melulu lantahkan hati yang keras.     tentang perkenalan tak sengaja. kontak mata pada sosok asing di keramain. dan senyumnya yang entah mengapa sangat menyebalkan di mataku.  jangan lupakan nomor tak di kenal yang entah dapat dari mana, dia memperkenalkan dirinya. seakan aku akan penasaran dengan sosoknya.  lalu kita lama lama dekat. entah apa yang terjadi hingga aku yang sudah tak perna memikirkan cinta ini di buat kebingungan oleh perasaannya sendiri detik demi detik. menit demi menit. kita saling memberi perhatian selayaknya orang saling mencintai. membahas hal hal aneh yang tak penting. dering telpon yang sering terdengar ketika malam hari aku pikir aku nyaman. aku pikir aku mulai menyukainya. hingga tak tau ada petaka yang    menungguku di depan sana.  rasa nyaman yang dia berikan sepertinya hanya tipuan. tidak ada yang asli karena pada akhirnya ia...

Jauh

  Kita semakin jauh Seperti tidak bisa lagi di raih atau bahkan hanya sekedar ku tatap Kita belum sempat menikmari senyum masing-masing Walau dulu, kita sempat bertemu, tapi aku masi merasa kurang Aku ingin kembali menikmati suaramu atau meminta telingamu mendengarkan ceritaku lalu mencubit pipiku dan aku yang merintih kesakitan Ah tidak tidak Aku mengharapkan terlalu banyak Ketika kita terlampau jauh Aku jauh lebih gemar di dalam lingkup percakapan  Karena berkirim pesan lewat gawai tak bisa membuatku senyummu atau sekedar alismu Aku jauh lebih gemar menatap langsung matamu  Ketimbang foto dengan pose anehmu itu atau sekedar menatap kukumu dan kembali memarahi tentang kuku panjang itu Suaramu lewat telepon Tak secandu ketika aku dapat mendengarnya langsung Lontara kata-kata kasarmu yang anehnya, malah jadi ku rindukan Kita berbeda dunia tapi seakan tak ada halangan untuk menuai percakapan Kira-kira, aku masi ada waktu tidak ya? Untuk kembali bertemu dan kembali bercakap ...

akhir yang sama

  kita berakhir lagi benar benar berakhir entah bisa di selamatkan atau tidak tapi kisah ini benar benar sudah berepilog Ini bukan perpisahan pertama kali sebab kita pernah kembali berkali-kali berpisah lalu kembali lalu berpisah lagi lalu kembali lagi. entah sampai kapan saat dia bilang kita harus saling pergi, saling melupakan dan kembali ke rumah masing masing aku tidak pernah sepakat.  Karena sekarang, rumah yang aku punya hanya dia.  Jika dia suruh aku pulang. Aku sudah pulang dari dulu.  Mungkin yang lebih tepat, dia menyuruhku untuk mencari rumah lain. Rumah yang dia pikir akan jauh lebih nyaman ketimbang punyanya.  Padahal ini bukan soal nyaman. Tapi soal keinginan. Mungkin saja aku nyaman tapi aku tidak ingin.  Aku terima pilihannya walaupun aku sangat ingin menjadi egois. Aku terima pilihannya untuk saling menjauh, walaupun aku sangat ingin bilang aku masih mau dia.  Tapi, aku juga tak ingin terus menerus berada di lorong waktu yang sama. Ter...

tidak kenal dengan orang yang sudah di kenal lama

  cakap-cakap apa yang kita tuai tiap malam, tiap bertemu? Tentang makanan kesukaanku, ceritaku, para traumaku? Lalu mana bagianmu. Bagian mana dari dirimu yang sempat kita jadikan topik?   Sedikit cerita tentang orang di masa lalumu? Sedikit cerita konyol di masa lalu? “sedikit.” kata sedikit yang tak pantas untuk kita yang sudah kenal lama.  kita kenal tapi hanya kau yang kenal aku. Kita dekat tapi tak benar benar dekat. Kita jauh tapi tak benar benar jauh.  Aku membuka pintu lebar dan mempersilahkanmu menyusuri tiap ruang waktu di dalam rumahku.  sedangkan kamu, memberi batas sampai ruang tamu seakan aku harus pergi bila urusanku sudah benar benar selesai.  seakan kamu sudah siap akan kepergianku sedangkan aku malah sangat ingin menguncimu di dalam rumahku.  aku memberimu banyak kesempatan untuk mengajakku jauh lebih dalam ke rumahmu. tapi aku tak berani minta secara terang karena tiap sudut rumah itu baru bisa aku kunjungi saat kamu mengijinkanku....

di salah satu kursi bus mini

kau pernah menangis? bagaimana dengan menangis di bus mini selepas pulang sekolah? duduk di pinggir jendela bus, dengan mata yang tak berhenti mengeluarkan air mata, seakan lupa bahwa bus mini akan selalu ramai di jam segini.  Menangis seakan lupa bahwa kendaraan lain mungkin saja bisa melihatnya dari jendela yang tak gelap ini.  Tak ada lagi yang di pikirkan gadis berseragam sekolah ini, selain sakit-sakit yang menikm hatinya, mengeluarkan bentuk sesak lewat air mata Kata siapa, kata siapa gadis ini tidak ingat keadaan. gadis ini hanya tidak bisa menghentikan air matanya. seakan yang keluar berada di luar kendali otaknya.  Bus mini selalu berhenti di pertigaan, akan lama bila penumpang bus sedang sepi. di tambah, ada kerusuhan di depan sana yang entah apa.  bukan sekali 2 kali gadis ini menangis di perjalanan pulangnya. gadis ini tidak memiliki masalah yang serius, ia hanya cengeng. dan lebih memilih menangis daripada sakitnya tak dapat berhenti. Ini sesak. bahkan l...

Harga

  Mungkin orang orang bisa bilang saya lebay.   Mungkin orang orang bisa bilang saya drama.   Mungkin orang orang bisa bilang saya tidak mudah     memaafkan.  Mungkin orang orang bisa bilang saya suka mengungkit masalah.  Tapi tidak ada orang yang tidak apa apa setelah kehilangan sesuatu yang ia sayangi.  Tidak ada orang yang tidak apa apa setelah ia mendapati sesuatu yang berharga dari dirinya tiba tiba lenyap.  Tidak ada.  Orang-orang tidak tau, dan orang orang tidak akan pernah tau.  Harga dari sesuatu itu sebelum ia sendiri yang mengalaminya.   Mereka tidak akan tau.  Seperti membangun rumah. Bertahun tahun di tempati. Bertahun tahun di isi oleh ratusan kenangan.  Bertahun tahun di isi dengan barang barang berharga dan penting.  Bertahun tahun di jadikan tempat pulang kala lelah. Bertahun tahun hingga merubah sosoknya menjadi tempat yang paling di sayangi.  Itulah mengapa, ketika rumah itu...

Sudah Selesai

Apakah terlihat terlalu baik? Tidak, masih sangat jahat. Masih terlihat jahat karena pernah merasa menjadi pihak paling berdarah. Bahkan, masih banyak celah, celah yang tidak di pertontonkan.  Masih jahat, ketika saya pernah begitu lantang mengatakan mereka jahat, sedang saya tak lebih baik dari mereka.  Siapa yang salah? Siapa yang berhak minta MAAF? Siapa yang berhak bertanggung jawab? Saya, kami, atau mereka?  Kau memilih siapa? Jangan memilih, jangan pernah memilih.  Sayang, terkadang kita berhak egois ketika seseorang melukaimu. Ketika seseorang menusuk belati dalam relung jiwamu. Tidak apa, kamu berhak egois, kamu berhak marah, bahkan kamu berhak untuk melakukan tindakan apapun untuk mengembalikan belati yang ia atau mereka berikan, bahkan juga sangat berhak untuk tak menerima ia atau mereka yang menusukan belati padamu meminta maaf. Kamu sangat berhak.  Sayang, kamu juga berhak menangis, berhak menyesal, berhak untuk teriak bahwa kamu juga sangat berdarah...